CATATAN KURATORIAL / TERAP FESTIVAL #3
Waktu
Bersama.
Pada perhelatan TERAP (Festival Teater di Ruang Terbuka) 2026, kami mengusulkan gagasan "Waktu Publik/Waktu Bersama" sebagai cara membaca kembali hubungan antara waktu, ruang kota, dan kehidupan kolektif.
Gagasan ini berangkat dari kesadaran bahwa waktu tidak selalu berjalan kaku, efisien, dan produktif sesuai tuntutan sistem kerja modern. Di Indonesia, waktu dialami secara fleksibel, dinamis, dan kontekstual—bukan sekadar dihitung, melainkan dijalani sesuai kebutuhan hidup dan relasi sosial. Sebaliknya, cara pandang modern yang lahir dari era industri memosisikan waktu sebagai instrumen disiplin dan sumber daya yang harus terukur. E.P. Thompson (1967) mencatat pergeseran dari kerja berbasis tugas ke kerja berbasis jam, di mana hari disesuaikan dengan jadwal tetap dan produktivitas diukur dari durasi. Akibatnya, waktu lebih sering dirasakan sebagai beban tuntutan ketimbang pengalaman hidup.
Jika pada era industri waktu didisiplinkan melalui jam kerja dan pabrik, maka pada era digital waktu mengalami percepatan yang jauh lebih radikal. Paul Virilio (1977) menyebut kondisi ini sebagai dromology, yakni logika sosial yang dibentuk oleh kecepatan. Dalam masyarakat modern, kecepatan tidak lagi sekadar alat untuk mencapai tujuan tertentu, melainkan telah menjadi nilai itu sendiri. Semakin cepat seseorang bergerak, merespons, mengirim informasi, dan mengambil keputusan, semakin tinggi pula tuntutan yang dibebankan kepadanya.
Bersamaan dengan perubahan tersebut, berkembang pula gagasan tentang ruang publik yang tertib dan terkendali. Ruang bersama dibayangkan sebagai ruang yang harus berfungsi sesuai perencanaan, mudah diawasi, dan digunakan secara efisien. Publik diposisikan sebagai pengguna yang mengikuti aturan ruang dan waktu yang telah ditentukan. Namun, dalam praktik keseharian, gagasan tersebut tidak pernah sepenuhnya berjalan mulus.
Kota-kota di Indonesia justru menunjukkan kenyataan berbeda. Ruang publik—dari jalan hingga pemakaman—terus dinegosiasikan oleh penggunanya: garasi toko menjadi warung makan di malam hari, lapangan berubah menjadi pasar kaget akhir pekan, dan area makam jadi tempat main bola. Ruang publik tidak pernah tunggal; ia selalu dinamis mengikuti waktu, kebutuhan, serta relasi sosial di dalamnya. Logika percepatan membuat kehidupan serba instan: pesan wajib segera dibalas dan pekerjaan terus membuntut lewat notifikasi. Bukannya menghemat waktu, teknologi justru memicu paradoks—makin cepat ritme hidup, makin bertambah tuntutan yang harus dikerjakan. Waktu terasa makin padat, tetapi kehilangan makna.
Jonathan Crary (2013) menyebut kondisi ini sebagai "masyarakat 24/7", yaitu tatanan yang memaksa manusia terus aktif dan produktif hingga waktu luang dikolonisasi oleh pekerjaan, media sosial, serta ekonomi perhatian (attention economy). Akibatnya, pengalaman waktu bersama terkikis: meski hidup dalam waktu kronologis yang sama, kita makin jarang mengalaminya secara kolektif karena ritme tiap orang terfragmentasi oleh tuntutan kerja, algoritma, hingga ekonomi platform—menggeser ruang perjumpaan fisik seperti pasar, alun-alun, dan percakapan jalanan.
Di tengah kondisi tersebut, ruang publik masih memungkinkan hadirnya waktu bersama. Saat orang berkumpul, menunggu kereta, atau sekadar berdiam diri tanpa tuntutan produktif, mereka membentuk ritme kolektif yang lepas dari logika percepatan—menjadikan waktu bukan lagi sesuatu yang harus dikejar, melainkan dibagikan.
Waktu publik bukanlah sekadar hitungan jam di ruang terbuka, melainkan denyut yang lahir dari hangatnya perjumpaan. Ia tercipta saat kita saling menyapa lewat kehadiran, melebur dalam ruang yang sama, dan merajut peristiwa bersama—menjelma menjadi waktu yang tak lagi milik sendiri, tetapi milik kita.
Di mata Lefebvre, kehidupan sehari-hari adalah denyut dari perjumpaan pelbagai ritme. Ada yang berulang patuh seperti jadwal kereta dan jam kantor; ada pula yang hadir tiba-tiba seperti guyuran hujan, riuh anak-anak, atau macet yang menyapa tanpa pamit. Dari benturan dan negosiasi ritme-ritme inilah, kota menemukan nyawanya.
Di sinilah TERAP 2026 berpijak. Jika dua edisi sebelumnya banyak mengeksplorasi memori publik melalui sejarah lokal, kisah warga, dan jejak peristiwa sosial yang melekat pada ruang tertentu, TERAP #3 ingin memperluas eksplorasi tersebut ke wilayah pengalaman waktu. Memori tidak dipahami sebagai sesuatu yang beku di masa lalu, melainkan terus hadir dalam kebiasaan, ritme, serta perjumpaan sehari-hari. Ingatan hidup karena terus dijalani.
Dalam situasi kehidupan yang kian terakselerasi, praktik seni pertunjukan di ruang publik menghadirkan kemungkinan lain. Teater mengumpulkan orang-orang yang semula bergerak ke berbagai arah untuk berhenti sejenak dan berbagi perhatian pada peristiwa yang sama. Dalam arti tertentu, teater adalah praktik memproduksi waktu bersama.
